MAKALAH
INOVASI PEMBELAJARAN SAINS SEDERHANA
SAINS SEDERHANA KOMPOR UDARA
MENGENALKAN SAINS SEDERHANA
UDARA MENEMPATI RUANG PADA ANAK
USIA DINI MELALUI MEDIA KOMPOR UDARA
Disusun Oleh :
SUPRIHATIN, S.Pd.I
NUPTK: 4055756657300013
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anak usia dini merupakan masa
dimana anak selalu mencari informasi mengenai apapun yang ingin diketahui. Pada
masa ini anak dikenal dengan memiliki sifat rasa ingin tahu yang tinggi pada
segala hal. Tentunya masa ini harus dioptimalkan dengan baik oleh guru dan
orangtua agar anak menjadi pribadi yang cerdas dimasa mendatang.
Pendidikan anak usia dini
tidak hanya pembelajaran matematika, bahasa keterampilan, gambar, dan lain-lain
yang diberikan melainkan juga pembelajaran sains, yang mana sains itu sendiri adalah
proses pengamatan, berfikir, dan merefleksikan aksi dan kejadian/peristiwa.
Sedangkan sains bagi anak usia dini adalah suatu ilmu yang disusun secara
sistematis yang terdiri dari konsep-konsep sains yang berhubungan dengan
fenomena-fenomena alam yang ada disekitar anak atau dekat dengan anak, seperti
tenggelam, mengapung, pelangi, matahari, bulan, banjir, macam-macan rasa,
perubahan warna suatu zat, udara dan lain-lain.
Pengenalan
sains untuk anak pra sekolah lebih ditekankan pada proses daripada produk.
Untuk anak prasekolah keterampilan proses sains hendaknya dilakukan secara
sederhana sambil bermain. Kegiatan sains memungkinkan anak melakukan eksplorasi
terhadap berbagai benda, baik benda hidup maupun benda tak hidup yang ada
disekitarnya. Anak belajar menemukan gejala benda dan gejala peristiwa dari
benda-benda tersebut. Sains juga melatih anak menggunakan lima inderanya untuk mengenal
berbagai gejala benda dan gejala peristiwa. Anak dilatih untuk melihat, meraba,
membau, merasakan dan mendengar. Semakin banyak keterlibatan indera dalam
belajar, anak semakin memahami apa yang dipelajari. Melalui proses sains, anak
dapat melakukan percobaan sederhana. Percobaan tersebut melatih anak
menghubungkan sebab dan akibat dari suatu perlakuan sehingga melatih anak
berpikir logis.
Berdasarkan Permendiknas
Nomor. 58 Tahun 2009 Tentang Standar Pendidikann Anak Usia Dini, pembelajaran
sains bagi Anak Usia Dini dimulai pada tingkat pencapaian perkembangan anak
Usia 3-4 tahun dan dapat dikembangkan secara maksimal pada usia 5-6 tahun.
Permainan sains untuk anak usia dini difokuskan pada pembelajaran mengenai diri
sendiri, alam sekitar dan gejala alam. Permainan sains diharapkan dapat (1)
Membantu pemahaman anak tentang konsep sains dan keterkaitannya dengan kehidupan
sehari-hari, (2) Membantu menumbuhkan minat pada anak usia dini untuk mengenal
dan mempelajari benda-benda serta kejadian sekitarnya, (3) Membantu anak agar
mampu menerapkan berbagai konsep sains untuk menjelaskan gejala-gejala akan
alam dan memecahkan masalah dalam kehidupan.
Pembelajaran di Taman
Kanak-kanak atau yang sederajat biasanya mengenalkan udara yang merupakan salah
satu sub pokok pembahasan dalam tema air, udara, api. Namun pemahaman anak
terhadap tema tersebut masih terbatas khususnya tema udara dikarenakan cara berpikirnya
masih bersifat pada hal-hal yang konkrit atau nyata. Pada tema udara anak perlu
mengetahui sifat udara yang tentunya materi yang akan disampaikan sulit
dipahami anak. Oleh karena itu dibutuhkan media yang mampu memberikan
penjelasan tentang sifat udara.
Dari uraian di atas mucul
permasalahan yang perlu dicari penyelesaiannya, yaitu sains yang bagaimana yang bisa diajarkan kepada anak
usia dini dalam kegiatan pembelajaran mengenal sifat udara. Oleh karena itu
penulis membuat sains sederhana yaitu melalui percobaan dengan menggunakan
”Kompor Udara”
Percobaan Kompor Udara ini disajikan dalam kegiatan yang efektif,
menyenangkan, menarik dan bermakna bagi Anak Usia Dini. Karena penyajian yang
menarik perhatian anak maka diharapkan Anak Usia Dini dengan mudah
memahami konsep sains sederhana tentang
sifat udara.
B. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam laporan penelitian ini adalah membuat karya inovatif yang digunakan dalam proses
pembelajaran berupa Kompor Udara untuk
mengenalkan sifat udara.
C. Tujuan
1. Pengembangan
pembelajaran sains sederhana di PAUD/TK
2. Memberikan
informasi bahwa udara memiliki sifat-sifat tertentu.
3. Membantu guru dalam memperkenalkan
konsep sains sederhana pada Anak Usia Dini
D. Manfaat
Makalah ini
bermanfaat untuk :
1. Menambah wawasan
2. Memberikan
informasi tentang sains pada anak dan guru
3. Mengenalakan sains
pada anak usia dini sejak dini
4. Menambah
pengetahuan guru tentang sains di TK/RA
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
1. Pengertian Sains
Kata sains berasal dari bahasa
Latin scienta yang berarti “pengetahuan” atau “mengetahui”.
Dari kata ini terbentuk kata science (Inggris). Sains dalam
pengertian sebenarnya adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari fenomena alam
sehingga rahasia yang dikandungnya dapat diungkap dan dipahami. Dalam usaha
mengungkap rahasia alam tersebut, sains melakukannya dengan menggunakan metode
ilmiah.
Sains secara umum dapat
diartikan ilmu yang teratur (sistematik) yang dapat diuji atau dibuktikan
kebenarannya, berdasarkan kebenaran atau kenyataan semata (misalnya : fisika,
kimia, biologi). Sains juga diartikan sebagai suatu cabang ilmu yang mengkaji
sekumpulan pernyataan atau fakta-fakta dengan cara sistematik dan serasi dengan
hokum-hukum umum dilandasi peradaban dunia modern. Sains merupakan suatu proses
untuk mencari dan menemukan suatu kebenaran melalui pengetahuan (ilmu) dengan
memahami hakikat makhluk.
Mulyadi
Kartanegara beranggapan bahwa ilmu pengetahuan secara bahasa adalah science berarti "keadaan atau fakta mengetahui dan sering
diambil dalam arti pengetahuan (knowledge) yang kontras terhadap intuisi
dan kepercayaan. Ilmu pengetahuan yang dimaksud dengan sains (science)
adalah ilmu pengetahuan ilmiah atau pengetahuan yang bersifat ilmu, secara ilmu
pengetahuan, memenuhi syarat ilmu pengetahuan (KBBI).
Sains memiliki
ciri-ciri tertentu. Beberapa ciri sains tersebut adalah sebagai
berikut: 1) Objek kajiannya sains berupa benda-benda konkret; 2)
Sains mengembangkan pengalaman-pengalaman empiris; 3) Sains menggunakan
langkah-langkah sistematis; 4) Hasil/produk sains bersifat objektif; 5) Sains
menggunakan cara berpikir logis; 6) Hukum-hukum yang dihasilkan sains bersifat
universal
2. Pengertian Udara
dan Sifatnya
Udara dapat
didefinisikan campuran berbagai gas yang tidak berwarna dan tidak berbau yang
memenuhi ruang diatas permukaan bumi. Apabila dipanaskan,udara akan memuai.
Udara yang telah memuai menjadi lebih ringan sehingga naik. Apabila hal ini
terjadi tekanan udara turun karena udaranya berkurang.Udara
dingin mengalir ketempat udara yang bertekanan
udarah rendah lalu akan menyusut menjadi lebih berat dan turun ke tanah,
diatas tanah udara menjadi panas dan naik kembali. Aliran
naiknya udara panas dan tutunnya udara dingin ini dinamakan
“konveksi”. Manusia serta makhluk hidup lainnya memerlukan udara untuk
bernafas, walaupun memiliki perbedaan cara penggunaan organ penafasannya
(paru-paru, insang, kulit, da trakea)
Udara merupakan
komponen lingkungan yang tidak bisa dilihat dan hanya bisa dirasakan
keberadaannya. Namun karena udara juga termasuk salah satu materi (benda yang
memiliki massa dan memerlukan ruangan) maka ketika kita akan mengkontruksi
konsep tentang udara dan sifat-sifatnya memerlukan alat bantu.
Beberapa sifat
udara antara lain:
1. Udara berbentuk
gas
2. Udara menempati
ruang
3. Udara memiliki
massa (berat).
4. Udara mempunyai
tekanan
5. Udara memuai jika
dipanaskan
6. Udara menyusut
jika didinginkan
7. Udara berhembus
dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat yang bertekanan rendah.
8. Ada di mana-mana,
tidak dapat dilihat tetapi dapat dirasakan.
9. Bentuk, volum, dan
berat jenisnya selalu berubah.
10. Memberikan tekanan.
11. Mengembang bila dipanaskan dan menyusut bila
didinginkan.
12. Udara panas mempunyai tekanan yang lebih rendah
dari pada udara dingin.
13. Udara yang bergerak memiliki tekanan yang lebih
rendah dari pada udara diam.
3. Pentingnya
Pembelajaran Sains pada Anak Usia Dini
Masa usia
dini adalah masa yang tepat untuk penanaman pembelajaran yang berkesan, karena anak bersifat aktif dan memiliki
rasa ingin tahu yang tinggi. Hal ini diharapkan pengalaman yang mereka terima
akan benar-benar mereka bawa sampai dewasa nanti. Pembelajaran sains yang
menyeluruh tentang alam ini menyebabkan sains seharusnya dapat diberikan sejak
seseorang berusia dini (Nugraha, 2005: 7).
Produk sains
meliputi fakta, konsep, teori, prinsip dan hukum. Untuk anak prasekolah fakta
dan konsep sederhana dapat dipelajari melalui kegiatan bermain.
Benda-benda yang
digunakan bermain dalam kegiatan pembelajaran adalah benda yang konkrit
(nyata). Pendidik tidak dianjurkan untuk menjejali anak dengan konsep-konsep
abstrak. Pendidik sebaiknya menyediakan berbagai benda dan fasilitas lainnya
yang diperlukan agar anak dapat menemukan sendiri konsep tersebut. Anak usia
4-6 tahun masih sulit menghubungkan sebab akibat yang tidak terlihat secara
langsung karena pikiran mereka yang bersifat transduktif. Anak tidak dapat
menghubungkan sebab-akibat yang tidak terlihat secara langsung. Jika anak
melihat peristiwa secara langsung, membuat anak mampu mengetahui hubungan sebab
akibat yang terjadi. Sains kaya akan kegiatan yang melatih anak menghubungkan
sebab akibat. Dalam hal ini difokuskan hanya tentang sifat udara, yaitu udara
menempati ruang dan udara memberikan tekanan.
Dalam pembelajaran
sains ini, anak juga berlatih menggunakan alat untuk melakukan percobaan.
Dengan demikian kemampuan intelektual anak berkembang.
Dari uraian di
atas dapat ditarik pengertian bahwa sains membiasakan anak-anak mengikuti
tahap-tahap eksperimen dan sains dapat melatih mental positif, berpikir logis,
dan urut (sistematis). Di samping itu, dapat pula melatih anak bersikap
cermat, karena anak harus mengamati, menyusun prediksi, dan mengambil
keputusan.
4. Keunggulan dan
Kelemahan Pembelajaran Sains menggunakan Kompor Udara
Meskipun
dalam penggunaan kompor udara sangat dibutuhkan guru dan siswa dalam membantu
kegiatan pembelajaran mengenal sifat udara, namun secara umum terdapat beberapa
kelebihan dan kelemahan dalam penggunaannya. Diantara kelebihan kompor udara
yaitu:
1 Memperjelas
penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk
kata-kata, tertulis atau lisan belaka) karena pada dasarnya anak usia dini
masih berfikir yang konkrit
2 Mengatasi
perbatasan ruang, waktu dan daya indera
3 Konsep
yang terlalu luas (sifat udara) dapat di visualkan dalam bentuk eksperimen yang
dapat langsung dilihat hasilnya
4 Dengan
menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi sifat pasif anak didik
dapat diatasi.
5 Kompor
udara dengan bentuk yang sederhana dan tanpa bahan kimia dalam eksperimen, aman
untuk kegiatan anak
6 Menimbulkan
kegairahan belajar dan memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak
didik dengan lingkungan dan kenyataan.
Ada beberapa
kelemahan sehubungan dalam penggunaan kompor udara, yaitu:
1 Penggunaan kompor
udara dalam pembelajaran memakan waktu yang banyak
2 Ukuran yang
terbatas maka akan memnyulitkan kegiatan pembelajaran dalam kelompok besar.
3 Kegiatan
menggunakan kompor udara untuk mengenal sifat udara ini memerlukan alat dan
fasilitas yang lengkap jika kurang salah satu padanya, eksperimen akan gagal.
B. Langkah-langkah
Pelaksanaan
1. Rancangan Alat
Sebelum membuat
peraga kompor udara, guru mengumpulkan terlebih dahulu sumber-sumber yang
diperlukan, diantaranya:
a. Silabus, yaitu
rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang
mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok pembelajaran,
kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan
sumber/bahan/alat belajar.
b. Rencana Kegiatan Harian (RKH), yaitu rencana yang
menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu
kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam
silabus.
c. Indkator, indikator yang ingin dikembangkan
dalam kegiatan
2. Bahan dan Alat
Penggunaan alat dan
bahan kompor udara sangatlah
sederhana. Kompor udara dibuat dari
bahan-bahan yang mudah dicari dan ada di lingkungan kehidupan anak, yaitu:
a. Kardus bekas/Styrofoam
b. Kertas warna
c. Lem
d. Cat Asturo
e. Balon
f. Torong
g. Gunting
h. Air Dingin
1. Cara Pembuatan
Cara membuat
kompor udara sangat sederhana, langkah-langkah pembuatannya adalah sebagai
berikut:
a. Kardus/styrofoam dipotong
b. Kardus/ styrofoam
dipotong dan bentuklah seperti kompor
c. Kemudian tempel kardus/ styrofoam yang sudah
membentuk kompor dengan kertas manila warna/cat asturo agar menggambarkan
kompor yang sebenarnya
d. Siapkan balon
e. Siapkan torong
f. Siapkan air dingin
2. Cara Penggunaan
Cara menggunakan
kompor udara dalam kegiatan pembelajaran tema air, udara api pada sub
pembahasan udara, langkah-langkanya antara lain:
a. Tiup balon dengan
ukuran sedang/sesuai dengan tujuan percobaan
b. Masukan ke dalam
kompor
c. Setelah balon masuk
dalam kompor, lalu masukkan torong ke mulut balon, dengan posisi ujung
balon masih tertutup agar udara didalam balon tidak keluar.
d. Lalu
siapkan air dingin, masukan kedalam torong
e. Setelah semuanya siap
lepaskan ujung balon sehingga udara dalam balon keluar dan menekan permukaan
air sehingga air terlihat seperti mendidih.
3. Hasil yang diperoleh dari Percobaan Kompor Udara
Dari pecobaan yang dilakukan
maka jika balon berukuran kecil maka tekanan udara ke permukaan air akan lemah, gelembung
air yang berada di torong sedikit juga tidak bertahan lama, tapi jika
balon ditiup dengan ukuran yang lebih besar maka gelembung yang dihasilkan akan
lebih kuat dan lama. Air yang terlihat mendidih merupakan bukti bahwa
udara menekan dan menempati ruang.
BAB III
ANALISIS HASIL
A. Deskripsi Hasil
Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran sains sederhana mengenal sifat udara menggunakan
percobaan kompor udara hasilnya adalah:
1. Suasana
kelas menjadi lebih hidup, anak menjadi aktif, pengetahuan siswa terhadap
konsep sains menjadi meningkat, pembelajaran menjadi bervariatif,
materi yang disajikan lebih mudah diserap anak.
2. Mampu meningkatkan kecerdasan dan pemahaman anak tentang sifat udara dengan
demikian kematangan perkembangan anak menjadi lebih baik dalam mengenal konsep
sains sederhana.
B. Analisis hasil
pembelajaran
Berdasarkan hasil observasi di
lapangan, penulis melihat kebanyakan dari guru banyak yang belum menggunakan media atau
menggunakan alat peraga yang kurang menarik, guru masih banyak menggunakan
metode ceramah yang menyebabkan anak menjadi cepat bosan.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Masa usia
dini adalah masa yang tepat untuk penanaman pembelajaran yang berkesan, karena anak bersifat aktif dan memiliki
rasa ingin tahu yang tinggi. Hal ini diharapkan pengalaman yang mereka terima
akan benar-benar mereka bawa sampai dewasa nanti. Produk sains meliputi
fakta, konsep, teori, prinsip dan hukum. Untuk anak prasekolah fakta dan konsep
sederhana dapat dipelajari melalui kegiatan bermain. Benda-benda yang digunakan
bermain dalam kegiatan pembelajaran adalah benda yang konkrit (nyata).
Anak usia 4-6
tahun masih sulit menghubungkan sebab akibat yang tidak terlihat secara
langsung karena pikiran mereka yang bersifat transduktif. Jika anak melihat
peristiwa secara langsung, membuat anak mampu mengetahui hubungan sebab akibat
yang terjadi. Dalam hal ini tentang sifat udara, yaitu udara menempati ruang dan
udara memberikan tekanan.
Oleh karena itu
dibutuhkan media yang mampu memberikan penjelasan tentang sifat udara. Dengan percobaan kompor
udara ini anak lebih termotivasi dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap
sains. Percobaan tersebut melatih anak menghubungkan sebab
dan akibat dari suatu perlakuan sehingga melatih anak berpikir logis. Di
samping itu, dapat pula melatih anak bersikap cermat, karena anak harus
mengamati dan mengambil keputusan.
A. Saran
Untuk meningkatkan
keberhasilan pembelajaran sains mengenal sifat udara di Taman Kanak-kanak atau
di Raudhatul Athfal guru dapat menggunakan metode eksperimen dengan menggunakan
media kompor udara sehingga anak menjadi antusias dan tertarik
dalam pembelajaran sains serta dapat menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan.
DAFTAR PUSTAKA
Permendiknas Nomor. 58 Tahun
2009 Tentang Standar Pendidikann Anak Usia Dini
http://brainly.co.id/tugas/269957
http://www.pengertianahli.com/2013/12/pengertian-sains-apa-itu-sains.html#_
http://www.fipumj.net/artikela87ff679a2f3e71d9181a67b7542122c-MASALAH-BELAJAR-DAN-PEMBELAJARAN-ANAK-USIA-DINI-.html. (online).
Diakses pada 04 Maret 2015. Nugraha, Ali. (2005)
